Tuesday, October 07, 2008

2,3 atau 3,2

"dan Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu (QS.> 4:113)
Saya mengenal sosok Syafe'I adalah seorang yang rajin beribadah. Di sebuah masjid perkantoran di bilangan Jendral Sudirman Jakarta di mana saya sering bersilaturahmi. Kerap saya dapati Syafe'I selalu pada shaf pertama setiap kali shalat berjamaah dilangsungkan. Dia adalah seorang muslim yang taat, setidaknya itulah sosok yang saya kenal dari diri Syafe'i.
Syafe'I adalah seorang driver yang bekerja lebih dari 20 tahun membawa mobil seorang direktur utama sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta. Hal yang membuat Syafe'I disukai dalam tugasnya ini antara lain karena sifatnya yang jujur, tidak banyak bicara dan loyal terhadap majikan. Amat sulit rasanya di zaman sekarang ini mencari seorang pegawai seperti Syafe'I yang setia mengemban tugas yang sama lebih dari 20 tahun. Hal yang menarik dari diri Syafe'I pun adalah sifat qanaah yang dimilikinya. Gak ngoyo, selalu merasa puas dengan anugerah yang Allah berikan untuk dirinya dan keluarga. Inilah manusia yang kaya pada hakikatnya. Ia senantiasa merasa cukup atas karunia Allah Swt. Tidak berharap lebih dari apa yang diberikan. Pagi itu Syafe'I hendak berangkat menuju rumah majikannya. Sebelum meninggalkan rumah, Syafe'I dilepas dengan sebuah keluhan yang meluncur dari mulut istrinya perihal biaya pendaftaran kuliah anak mereka sebesar Rp 8 juta. Sang istri meminta Syafe'I untuk mencari dana sebesar itu, paling tidak dengan cara meminjamnya terlebih dahulu. Kemudian akan dicicil dari penghasilan bulanan mereka yang pas-pasan. "Pak, tolong pinjam dulu kepada majikanmu dana untuk anak kita kuliah!" pinta istri Syafe'i. Namun Syafe'I tidak berkata sepatah pun menanggapi usulan istrinya. Ia sadar bahwa dana sebesar itu baginya akan membuat sulit hidup demi mengangsur cicilan. Apalagi bila dana itu dipinjam dari bossnya, pasti akan membuat hubungan menjadi tidak enak. Syafe'I lebih memilih mengadukan urusannya ini kepada Tuhan manusia, daripada harus diceritakan kepada sesama. Mulai sejak itu, banyak doa yang dipanjatkan Syafe'I kepada Allah Swt karena hajat anaknya yang ingin kuliah. Rupanya kepasrahan diri kepada Allah SWT menyelesaikan semua masalah. "Tidak ada masalah yang besar, semuanya kecil di mata Allah!" gumam Syafe'I membesarkan hati. Adegan pagi itu sama seperti hari-hari sebelumnya dalam karir Syafe'i. Ia tengah memegang kemudi mobil membawa majikannya ke kantor. Namun tiba-tiba pintu ijabah dan keberkahan Allah Swt mulai terbuka untuknya. Sang majikan tanpa angin tanpa hujan membuka bicara, "Syafe'I, nanti kalau sudah sampai ke kantor segera kamu ke divisi General Affair (bagian umum) ya…! Tanya sama mereka vendor dekorasi mana yang terbaik menurut mereka! Saya mau renovasi rumah yang di Kebayoran. Bila bagian GA sudah kasih nama vendornya, segera kontak mereka dan ajak untuk lihat rumah. Saya minta vendor itu untuk ajukan biaya renovasinya. Kalau sudah direnovasi saya mau jual rumah itu. Kamu paham gak…?" tanya sang majikan. "Saya paham, Pak!" sahut Syafe'I sigap. Syafei menuruti perintah atasannya. Vendor ia kontak dan diajaknya untuk melihat rumah majikan yang ada di bilangan Kebayoran. Usai melihat, mengukur dan meninjau rumah, vendor itu berjanji akan mengajukan penawaran biaya renovasi dalam beberapa hari. Dan betul seperti yang dijanjikan, akhirnya pengajuan renovasi rumah itu mereka buat dan dititip ke Syafei. "Boss, ini pengajuan renovasi rumah Kebayoran dari vendor kemarin…" kata Syafe'I kepada majikannya sebelum masuk ke dalam mobil. Majikannya membaca pengajuan anggaran renovasi di atas mobil. Baru beberapa menit membaca, sang majikan langsung berkomentar, "Kok mahal sekali ya…, masa hanya renovasi rumah begitu saja sampai menghabiskan dana lebih dari Rp 200 juta!" Mendengarnya Syafei menimpal, "Wah mahal betul ya boss…! Kalau boss gak setuju dengan penawaran vendor itu, saya punya teman pemborong yang kerjaannya bagus. Insya Allah harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari vendor tadi. Kalo boss masih ragu, semua material boss yang beli, nanti tinggal bayar jasa pengerjaannya saja" jelas Syafei. Sang majikan sudah kenal betul sifat dan watak Syafei. 20 tahun bekerja adalah bukti kejujuran dan loyalitas yang sudah tidak lagi diragukan. Tanpa banyak komentar sang majikan meminta Syafei mengajak temannya yang pemborong itu untuk merenovasi rumah. Benar saja…, renovasi rumah lewat pemborong teman akrab Syafei hanya memakan dana Rp 60 juta! Sang majikan senang, karena supirnya telah membuat efisiensi pengeluaran tidak kurang dari 140 juta rupiah. Kesenangan majikan itu terus berlanjut yang kemudian mempercayakan Syafei untuk menjual langsung rumah yang baru direnovasi tadi. Dalam perjalanan di atas mobil menuju kantor sang majikan berkata kepada Syafei, "Usai ngantar saya, tolong kamu pergi ke biro iklan. Pasang iklan untuk menjual rumah Kebayoran itu di media-media cetak. Kamu khan sudah tahu semua spesifikasi rumah... Kontak person di iklan itu kamu saja Syafei! Terus jangan lupa untuk cantumkan harga penjualan sebesar 2,3 milyar!!!" jelas sang majikan kepada Syafei. Syafei mengiyakan semua tutur majikannya. Seperti yang diminta beliau, usai mengantar ke kantor Syafei pun pergi ke biro iklan. Syafei tengah mengisi semua formulir yang perlu diisi di biro iklan. Dalam lembar formulir itu, ia sebutkan semua spesifikasi rumah majikannya berikut seluruh fasilitasnya. Tak lupa ia cantumkan nama dan nomer kontaknya sebagai contact person. Usai mengisi formulir iklan itu, maka lembar itu ia serahkan kepada petugas biro iklan. Petugas itu membacanya dan sejurus kemudian petugas itu melemparkan sebuah tanya kepada Syafei, "Pak harga jualnya mau dicantumkan gak?" "Oh iya, tolong cantumkan Mbak...!" sahut Syafei. "Berapa harga yang diminta?" kejar sang petugas. Tiba-tiba saja Syafei memegang keningnya dengan telapak tangan, tidak hanya itu dia mengusap-usap rambut kepala bagian belakang seperti orang kepusingan. "Celaka, aku lupa berapa harga yang diminta majikan...! 2,3 M atau 3,2 M ya?!" gumamnya. Terus terang Syafei malu untuk menanyakan hal itu kepada majikannya. Nanti disangka ia teledor dalam bekerja. Lama Syafei mengambil keputusan. Bahkan ia perlu keluar dari kantor biro iklan itu hanya untuk mondar-mandir memutuskan antara 2,3 atau 3,2 angka yang hendak dicantumkan. Setelah beberapa lama menimbang dan berdoa, tiba-tiba Allah Swt memberi ketenangan di hati Syafei untuk mengambil sebuah keputusan. "Aha... pasti 3,2 milyar!!! Lebih bagus 3,2 milyar dicantumkan daripada 2,3. Sebab kalau betul angka yang diminta majikan adalah 3,2 M sedangkan yang saya cantumkan 2,3 M maka pasti tekor 900 juta. Siapa yang mau nombokin...? !" gumam Syafei. Syafei pun masuk kembali ke kantor biro iklan sambil berujar, "Mbak, tolong cantumin harga jualnya sebesar 3,2 milyar!" Usai membayar dan menerima struk iklan, Syafei pun kembali ke tempat kerja majikannya. Keesokannya iklan tayang. Tak seperti diduga, 4 perusahaan mengontak Syafei di hari itu tanda berminat, dan yang paling hebat penawarannya adalah PT Djarum yang menyatakan minatnya tanpa menawar sedikitpun. Tentu saja ini adalah kabar gembira dari Syafei untuk majikannya. "Hari ini boss ada waktu gak ke notaris?! Alhamdulillah rumah di Kebayoran ada yang berminat. PT Djarum mau ambil rumah itu, hebatnya mereka gak pake nawar lagi" kalimat Syafei membuka pembicaraan di atas mobil. Sang majikan surprised mendengarnya, kemudian beliau bertanya kepada Syafei "Memangnya berapa harga yang kamu tawarkan ke mereka?" "Saya cuma kasih harga ke mereka seperti yang boss minta!" jelas Syafei. "Iya, saya tahu tapi berapa harga yang kamu lepas, Syafei?!" tanya sang majikan sekali lagi. "Mereka saya tawarin harga 3,2 milyar!" imbuh Syafei Degg...!, sang majikan kaget mendengar harga yang ditawarkan Syafei kepada pembeli. Padahal kemarin harga yang dia minta hanya 2,3 milyar bukannya 3,2 milyar. Seolah gak percaya, sang majikan menyediakan waktu untuk bertemu calon pembeli di notaris hari itu. Betul saja, rumah itu laku terjual dengan nilai 3,2 milyar rupiah. Subhanallah. .., Syafei sudah memberi keuntungan kepada majikannya sebanyak Rp 900 juta!!! Belum lagi efisiensi biaya renovasi rumah yang tidak kurang dari 140 juta rupiah. Sang majikan mengulum senyum tanda puas atas dedikasi Syafei. Usai dari kantor notaris, di atas mobil sang majikan berkata, "Nanti sampai di kantor bilang kepada sekretaris saya bahwa kamu disuruh saya untuk buat paspor ya! Gak usah pake nanya macam-macam, pokoknya kamu bikin paspor Syafei!" tegas majikannya. Syafei hanya menuruti perintah majikannya. Belakangan ia tahu bahwa ia mau diajak umrah sama majikannya sebagai syukuran atas penjualan rumah. Syafei mensyukuri karunia Allah Swt yang tak terduga ini. Beberapa hari lagi menjelang umrah, sang majikan berkata kepada Syafei dalam perjalanan pulang menuju rumah majikannya "Syafei, kita khan mau pergi ibadah umrah meninggalkan keluarga. Pantang bagi kita orang laki, kalau pergi jauh ninggalin rumah tapi gak nyisain bekal yang cukup buat keluarga yang ditinggal. Ini kebetulan ada rezeki. Jangan dilihat besar-kecilnya. Salam saya buat istri dan anak-anakmu! " Syafei menerima sebuah amplop putih cukup tebal dari majikannya. Ia berucap hamdalah dan berterima kasih atas pemberian itu. Usai mengantar majikan pulang, Syafei pun kembali pulang menuju rumahnya. Ia sampai di rumah. Dan amplop putih titipan majikan ia berikan kepada istrinya. Betapa terkejut sang istri begitu menghitung uang yang diberikan. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah keluarga supir seperti Syafei. Uang yang berada di amplop tersebut ternyata berjumlah 8 juta rupiah!!! Subhanallah. ..., angka tersebut rupanya sama seperti kebutuhan keluarga Syafei untuk biaya daftar anaknya kuliah. Namun yang lebih hebatnya lagi, rupanya Allah Swt malah mengundang Syafei untuk berangkat umrah menuju rumahNya lewat cara yang tidak pernah ia duga. Sungguh Allah maha tahu kebutuhan hamba-Nya, bahkan seringkali anugerahNya jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan! Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. 3:171)

Kaca Spion Andy Noya

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduandan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku,melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang duluselalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gadoyang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang duluingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahalini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnyajuga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soalgado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yangmengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir keperpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karenaharus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampusaya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, sayamelahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru,sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkanperpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, diluar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu,inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta . Harganya Rp 500 sepiringsudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau adauang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Dropout dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa danSiapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian BisnisIndonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir sayaterusmeningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia danMetro TV.Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudutjalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadigundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahantersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri sayasendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punyapenghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, sayatidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejakkecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjaditrauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersamaseorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik temanyang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer sayatempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah sayalangsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnyasia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasimobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadikamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kaliempat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di manasaya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lamakemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobildatang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinyadia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidakbersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spionmobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu,pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkanpenghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktuitu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan,order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cumasatu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dansaya - harus bisa bertahan hidup sebulan.Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiapakhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uanguntuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhirbulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Dimata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spionmobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kamiyang hanya menumpang di sebuah garasi?Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibujuga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobilitu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobilmewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musimlayangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkanjasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Padasaat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benanggelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasilmelakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya didalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat.Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hatinurani.Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliahbegitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enakdi lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yangsangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanyatertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gadolanggananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernahmerasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makangado-gado di pinggir jalan. Sekarang,apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yangenak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat sayatetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebabkamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaanbersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwatidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gajiyang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan sayatidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gadoyang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapisayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya sayatabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalamkehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobilsaya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang diboncengterjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang,sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat danmendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketikamenyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karenaterjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detikbayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah sayaketika menabrak kaca spion.Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maafatas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusahameluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segeraluluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Sayatidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobilyang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitusaya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidakingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah sayarasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidupyang pahit.
Refleksi:Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaantiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yangada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.